Penampilan Tim Angklung PPIF di acara Natsu Matsuri Fukuoka


Negara Jepang meskipun terkenal sebagai  negara yang sudah sangat maju tekhnologi nya,namun di sisi lain negara Jepang dikenal juga sebagai negara yang kaya dengan berbagai warisan budaya peninggalan leluhur yang tetap terjaga dan dilestarikan dengan baik. Salah satunya adalah acara matsuri yang biasa diadakan selama musim panas di berbagai daerah di Jepang termasuk di kota Fukuoka. Dalam pengertian umum di Jepang, matsuri berarti festival atau perayaan. Di Jepang, musim panas memang berarti musim pesta kembang api dan acara matsuri. Selama periode musim panas,  jika terlihat ramai orang memakai yukata (kimono musim panas, terbuat dari bahan kain tipis), berarti tidak jauh dari tempat tersebut bisa dipastikan ada acara matsuri ataupun pesta kembang api.

Acara matsuri biasanya diadakan di areal lapangan terbuka  dikelilingi oleh deretan tenda-tenda yang menjual berbagai macam barang  dagangan maupun jajanan pasar  sementara di bagian tengah lapangan biasanya didirikan semacam panggung kecil untuk tempat penampilan berbagai atraksi seni, tari, musik maupun bentuk hiburan  lainnya. Mirip dengan suasana pasar malam tradisional di Indonesia, dalam acara ini tua muda, besar kecil anak-anak maupun remaja Jepang di sekitar wilayah tempat matsuri berlangsung akan berdatangan memenuhi lapangan baik sendiri, bersama teman pasangan maupun keluarga.

Pada hari sabtu 24 Juli 2010 yang lalu, dalam acara Natsu Matsuri yang diadakan di lapangan sekolah Nishijin, tidak jauh dari lokasi menara “Fukuoka Tower” ,  tim angklung PPIF mendapat kehormatan diundang tampil sebagai salah satu pengisi acara dalam festival rakyat tahunan tersebut. Membawakan dua buah lagu tradisional Indonesia serta dua buah lagu rakyat Jepang sambil diiringi gitar akustik, penampilan tim angklung PPIF yang kali ini tampil mengenakan kostum batik warna merah cukup mampu menyita pehatian pengunjung festival yang sebagian besar ternyata baru  untuk pertama kalinya menyaksikan maupun mendengarkan suguhan permainan alat musik angklung.

Hal ini tampak setelah lagu terakhir selesai dibawakan. Dengan diiringi tepuk tangan meriah,  mungkin karena rasa penasaran ataupun tidak cukup puas hanya bisa menyaksikan penampilan tim angklung Indonesia dari kejauhan, beberapa penonton dengan antusias langsung menghampiri untuk bisa melihat dari jarak dekat alat musik angklung tersebut. Beberapa pengunjung bahkan dengan penuh minat minta diajarkan bagaimana cara memainkan alat musik tersebut yang dengan senang hati diperagakan ulang oleh para anggota tim angklung.  Acara dilanjutkan dengan betbagai atraksi serta hiburan menarik lainnya termasuk  selingan acara menari bersama  oleh para pengunjung festival tersbut, sebelum akhirnya ditutup dengan acara pesta kembang api.

Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari penampilan tim angklung PPIF kali ini. Jika masyarakat  Jepang yang notabene juga memiliki berbagai macam ragam alat musik tradional itu bisa tetap merasa tertarik, mengagumi dan menghargai alat musik angklung, sepatutnyalah kita sebagai bangsa Indonesia bisa lebih merasa bangga dan menghargai keberadaan alat musik angklung sebagai warisan asli budaya Indonesia. (TW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s