[Bedah Buku] KARAKTER: Hasil Pembiasaan, Bukan Hafalan.


cover buku

ULASAN RINGKAS

Saat ini, khususnya Pemerintah Indonesia sedang gencar melakukan kajian bagaimana mengembangkan karakter generasi penerus (anak-anak dan juga remaja) melalui pendidikan agar tidak hilang jiwa manusia Indonesia. Namun, sebagaimana yang kita ketahui bahwa terkadang penerjemahan sebuah pemikiran kurang sesuai dengan realita. Seperti yang kita tahu semua bahwa dalam sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah terkandung muatan tentang pengembangan karakter, baik itu melalui pelajaran Pendidikan Agama agar berkarakter Islami bagi yang muslim, maupun Pendidikan Pancasila agar manusia Indonesia memiliki jiwa pancasilais. Tetapi, karena pengejawantahan dalam prosesnya kurang tepat, maka karakter yang diharapkan setelah peserta didik lulus sekolah, nampak tidak terlihat. Semua semata-mata, dalam pandangan penulis, karena adanya miskonsepsi dalam implementasi kurikulum. Pelajaran agama lebih menekankan kepada bentuk hafalan ayat, surat, maupun ibadah kepada Allah SWT seperti sholat dan puasa, tanpa pemaknaan dan implementasi ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dengan nilai-nilai Pancasila, yang dulu pada saat Pemerintahan Orde Baru, lebih diutamakan kepada hafalan buti-butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan pada Pancasila atau yang lebih terkenal dengan P-4, tanpa adanya pemahaman dan pengimplementasian dari butir itu sendiri. Peserta didik lebih ditekankan untuk hafal dalam rangka menjawab soal ujian daripada pengimplementasian nilai yang ada. Siswa hafal tentang definisi dan ciri-ciri toleransi, ciri sikap saling menghargai perbedaan, tetapi tanpa diberikan penekanan untuk mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, selama penulis tinggal di Jepang, seberapapun majunya negeri sakura ini, karakter manusianya dapat dilihat karena hampir semuanya seragam. Dengan mengesampingkan budaya-budaya negatif menurut tatanan kita, tetapi kita hampir bisa menggeneralisasi bahwa manusia Jepang identik dengan jujur, disiplin, pekerja keras, taat aturan, teliti, dan sopan. Awalnya penulis tidak begitu memahami secara detail bagaimana Jepang bisa menanamkan nilai-nilai tersebut (dalam bahasa penulis adalah karakter manusia Jepang) dari generasi ke generasi. Walaupun seperti yang kita tahu bahwa saat ini nilai tersebut juga sepertinya memudar, namun dibandingkan dengan Indonesia saat ini, Jepang masih jauh lebih bisa menanamkan karakter manusia Jepang kepada generasi mudanya. Dengan kondisi tersebut, terbersit dalam pemikiran penulis untuk menelaah lebih dalam bagaimana Jepang mendidik generasi mudanya agar karakter sebagai manusia yang jujur, disiplin, pekerja keras, taat aturan, teliti, dan tetap mampu menjaga nilai kesopanan, masih bisa terjaga. Untuk itulah maka buku kecil ini ditulis dalam rangka mencoba menelaah bagaimana Jepang menanamkan karakternya kepada generasi penerus bangsanya. Seluruh penelahaan serta kajian yang ada di buku ini, penulis lakukan selama penulis mengikuti program pendidikan dan menjalani hidup di Jepang. Kajian ini dilakukan dengan model melihat secara langsung sistem persekolahan di Jepang, khususnya pada jenjang pendidikan dasar, serta analisis secara mendalam dari berbagai teori serta hasil penelitian dari berbagai sumber tentang pengembangan karakter di sebuah negara/komunitas tentang pendidikan karakter, yang penulis rangkai menjadi sebuah buku kecil yang berisi pokok- pokok bahasan singkat dengan judul KARAKTER: Hasil Pembiasaan, Bukan Hafalan.

Merujuk kepada judul yang penulis pilih, maka hampir keseluruhan isi buku tersebut akan mengupas tentang bagaimana sebuah karakter manusia dibentuk dari sebuah proses pendidikan, sebuah proses yang menurut pandangan penulis akan lebih bermakna jika lebih dititikberatkan kepada penanaman sikap individu yang bersangkutan melalui serangkaian aktivitas nyata yang dapat diperoleh melalui sekolah dan lingkungan rumah. Dengan penelaahan tersebut, kiranya penulis mengharapkan para pembaca memahami fungsi dan arti pentingnya sebuah sekolah serta lingkungan, khususnya rumah, dalam membentuk karakter seorang manusia, terlepas dari sifat yang dikaruniakan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, kepada kita sekalian sebagai umatNya.

Beberapa tulisan pada bagian awal buku tersebut akan menceritakan tentang budaya Jepang yang penulis temui dalam kehidupan sehari-hari. Sikap jujur menjadi sorotan pertama. Selepas tulisan mengenai budaya jujur, pembahasan berikutnya adalah tentang sikap santun masyarakat Jepang ditengah kemajuan negerinya yang sudah sangat pesat. Setelah itu akan ada paparan tentang budaya kerja keras masyarakat Jepang, budaya tata cara makan orang Jepang, dan budaya tepat waktu. Budaya antri, lapor diri, dan penanaman sikap menghargai orang lain di lingkungan orang Jepang adalah tinjauan berikutnya. Selepas beberapa bagian sisi kehidupan keseharian masyarakat Jepang, paparan berikutnya akan berturut-turut membahas tentang bagaimana Jepang membekali generasi mudanya yang memiliki karakter jujur, santun, pekerja keras, disiplin, dan taat aturan, melalui program pembelajaran di sekolah.

Tulisan pertama tentang pembahasan pembekalan karakter melalui sekolah akan penulis berikan pada tulisan yang berjudul modal penananaman karakter. Berikutnya, jika kita melihat secara detail tentang muatan yang diberikan kepada siswa TK dan SD di Jepang, seperti tertera pada tulisan bagian sebelumnya, maka akan sangat terlihat bahwa Pemerintah Jepang membekali siswanya dengan muatan olahraga dan seni yang cukup banyak. Selain bahasan tentang muatan yang diberikan kepada siswa pada jenjang Pendidikan Dasar, sisi lain dari Pendidikan Dasar di Jepang juga akan penulis kaji dari segi makna dan tata kelola. Paparan berikutnya adalah tentang karaktar menulis orang Jepang yang sangat rapi dan teliti. Tulisan tersebut selengkapnya ada dibagian ketiga buku tersebut dengan judul Membiasakan Menulis. Bagian berikutnya akan mengupas tentang permasalahan yang selama ini kurang dianggap sebagai sebuah masalah pendidikan, bahkan bisa dikatakan sebagai hal yang lumrah tetapi dalam pandangan penulis sebenarnya kurang tepat, yaitu fenomena lembaga bimbingan belajar dalam sistem pendidikan nasional. Pembahasan pada bagian diatas tidak terlepas dari sistem evaluasi yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sistem evaluasi sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran penulis lihat sebagai salah satu faktor kunci yang membentuk karakter belajar siswa secara keseluruhan. Setelah membahas tentang sistem, muatan, serta model penanaman sikap kepada peserta didik (siswa/mahasiswa), maka pada bagaian berikutnya penulis akan memaparkan tentang salah satu faktor yang sangat berperan dalam keberhasilan menerapkan sistem, memberikan muatan dan menanamkan sikap kepada siswa/mahasiswa. Faktor itu tidak lain adalah guru. Dalam bagian ini penulis mencoba menelaah perbedaan pokok antara pendidik pada jenjang pendidikan dasar dan tinggi. Sehingga bagian tersebut penulis beri judul dengan guru, dosen, dan Sensei (sebutan untuk pendidik di Jepang). Selepas memahami peranan masing-masing pendidik pada setiap jenjang pendidikan, maka bagian selanjutnya mencoba menganalisis tentang bagaimana pola rekrutmen dan penyiapan calon guru agar kelak menjadi seorang guru yang profesional. Bahasan tersebut akan penulis paparkan pada bagian menciptakan guru profesional(studi pada calon guru pendidikan vokasi, antara Jepang dan Indonesia). Bagian berikutnya akan membahas cara tepat mengembangkan kreativitas. Tulisan pada bagian ini akan banyak mengulas tentang pemikiran penulis terhadap apresiasi yang diberikan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat kepada produk anak negeri, yaitu mobil ESEMKA.

Keseluruhan alur catatan harian ini akan ditutup dengan sebuah catatan akhir. Secara garis besar buku ini disusun agar para pembaca mencoba menelaah tentang bagaimana kita khususnya sebagai pribadi, orang tua, serta masyarakat sebuah bangsa memahami tentang media pembentukan karakter yang tepat. Diharapkan, dengan memahami model pengembangan pendidikan karakter yang dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, maka kita semua diharapkan untuk tidak salah kaprah dalam menerapkan dan mengejawantahkan konsep pendidikan karakter dalam implementasi proses belajar di sekolah maupun dirumah sehingga tercipta generasi penerus yang memiliki kepribadian manusia Indonesia seutuhnya yaitu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pekerja keras, jujur, disiplin dan berdedikasi kepada tanah tumpah darah sehingga negara Indonesia akan bisa maju pada masa datang dengan tetap berpegang kepada Pancasila dan UUD 1945. Amin.

Biodata Penulis

Agung Premono1

Agung Premono, dilahirkan di dusun Rowopanggang desa Iser kecamatan Petarukan kabupaten Pemalang Jawa Tengah pada tanggal 1 Mei 1977. Menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di kampung halamannya. Pendidikan sarjana ditempuh di Universitas Diponegoro Semarang pada jurusan teknik mesin. Mulai Desember 2001 sampai sekarang bekerja sebagai dosen tetap di jurusan teknik mesin Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mendapat kesempatan training untuk mengikuti Vocational Training for Instructor: CAD/CAM and Production Engineering dari Japan International Cooperation Agency (JICA) pada Juni 2004 – Februari 2005 di Polytechnic University, Japan. Gelar magister diperoleh dari jurusan teknik mesin Universitas Indonesia. Untuk pendidikan doktor, dengan kekhususan bidang Computational Mechanics, diselesaikan di Mechanical Engineering Department, Kyushu University, Japan.

Menerima kepercayaan sebagai kepala laboratorium Perancangan (2005 – 2006), kepala laboratorium CAD/CAM (2006 – 2008), dan Ketua Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin UNJ pada tahun 2008 – 2010. Rentang waktu April 2010 – Maret 2013 dilaluinya sebagai mahasiswa Kyushu University, Fukuoka Japan, dan terdaftar sebagai anggota Japan Society of Mechanical Engineering (JSME) serta Japan Society of Computational Engineering and Science (JSCES).

Menikah pada tahun 2005 dengan Kartika Hermawati dan dikaruniai tiga orang putri: Anindya Kaila Premono, Anindita Kenara Premono, dan Anindiva Kireina Premono.

Ediotrial Board: PH, AN, FM

Credit Foto : Rendra Utama, Agung Premono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s