pic 1

BSOB, Apa itu? [Sekilas Sejarah dan Kegiatannya]


Tidak lama setelah datang di Fukuoka, para pejuang PPIF biasanya akan mendengar sedikit banyak mengenai BSOB. Oleh karena itu, tulisan kali ini ingin mencoba menceritakan BSOB lebih jelas untuk menjawab rasa ingin tahu lebih banyak para pejuang yang lain.

Apa Itu BSOB?

BSOB merupakan singkatan dari Badan Semi-Otonomi Beasiswa yang merupakan bagian dari PPIF. BSOB mempunyai tugas sebagai penghubung amanah antara anggota PPIF dan warga Indonesia di Fukuoka dengan adik-adik SD dan SMP di Indonesia yang mempunyai kesulitan ekonomi untuk membayar biaya pendidikan. Apabila disebutkan secara singkat, tugas BSOB adalah menyalurkan beasiswa kepada adik-adik tersebut. BSOB sekarang dikoordinasi oleh pejuang PPIF Atifa Sholikha dengan dibantu oleh pejuang PPIF Aurelia Karina Hillary, dan pejuang PPIF Irma Nur Afiah Raona.

Kapan BSOB Terbentuk?

Ide dibentuknya BSOB muncul pada tahun 2002 dan kegiatan pengiriman beasiswa mulai dilaksanakan pada tahun 2003. Oleh karena itu, umur BSOB sekarang sudah mencapai yang ke-10 tahun pencapaian kegiatan. Selama itu, dengan rahmat Tuhan Yang Mahaesa, doa, serta bantuan dari warga PPIF, warga Indonesia yang lain, dan masyarakat Fukuoka, BSOB setiap tahun melaksanakan tugas pengiriman beasiswa.

Apa yang melatarbelakangi pembentukannya?

Pembentukan BSOB dilatarbelakangi oleh keinginan kuat pejuang-pejuang PPIF pada tahun 2002 yang melihat perlunya urun andil semua warga Indonesia di manapun berada untuk memberikan tenaga dan bantuan bagi pendidikan anak-anak Indonesia. Para pejuang PPIF merasa betapa beruntungnya kita yang berada di Jepang bisa menikmati pendidikan dengan kualitas tinggi. Di sisi lain, masih banyak saudara-saudara di Indonesia yang bahkan tidak mampu untuk menyelesaikan pendidikan dasar. Keinginan kuat ini disambut oleh lingkungan masyarakat Fukuoka yang sangat mendukung upaya bantuan ini. Dengan cita-cita kuat ini, akhirnya pada kepengurusan PPIF periode 2003/2004, dibentuklah BSOB. Pembentukan ini dibarengi juga dengan dibentuknya badan organisasi non-profit oleh masyarakat Fukuoka, “Teman Hati” (nama bahasa Jepang: Yayasan Mari Membantu Pendidikan Anak Indonesia).

Bagaimana posisinya dalam struktur organisasi PPIF?

Berikut ulasan yang ditulis dalam newsletter kepengurusan PPIF periode 2003/2004, yang seharsinya bisa menjawab pertanyaan diatas:

“Melihat potensi yang ada pada tubuh PPI Fukuoka langkah-langkah kecil dicoba diwujudkan dalam tubuh PPI pada periode 2003-2004 ini. Langkah awalnya adalah dengan melakukan reorganisasi yang sebagai konsekuensinya, bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya, tubuh PPI periode ini kelihatan gemuk. Namun langkah ini harus diambil mengingat perlunya pembagian kerja. Secara umum, pembenahan dilakukan dalam dua garis besar yang menyangkut hubungan ke dalam dan ke luar. Untuk periode ini, aspek eksternal lebih menjadi fokus perhatian. Pertama, untuk memelihara dan memperluas jaringan kerja sama dengan pihak-pihak asing yang selama ini banyak membantu kegiatan-kegiatan PPI, terutama untuk menopang kegiatan penggalangan beasiswa dan promosi kebudayaan Indonesia, maka didirikanlah yayasan “Indonesia no Kodomo no Kyouiku wo Sukuou Kai”, yayasan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia. Yayasan yang berdiri pada tanggal 1 Juli 2003 ini dikelola bersama oleh PPI Fukuoka dan pihak asing, dalam hal ini suporter orang-orang Jepang. Ketua yayasan ini adalah Profesor Hideo Moriyama, dilengkapi dua wakil ketua dan dua sekretaris, yang masing-masing harus dijabat oleh ketua dan sekretaris PPI Fukuoka (ex-officio). Yayasan ini perannya cukup besar dalam mensukseskan kegiatan Charity Day II. Beberapa kegiatan lain yang telah dilakukan yayasan ini adalah Indonesian Fair di Nakagawa Machi untuk mengumpulkan dana beasiswa serta Chikyuu Shimin Dontaku yang merupakan agenda bersama jaringan NPO (Non- profit Organization) di Fukuoka, kegiatan resmi tahunan yang dibiayai pemerintah kota Fukuoka.

Sementara itu, untuk lebih memudahkan pengelolaan dan kesinambungan dalam hal manajemen program beasiswa, maka program beasiswa mulai periode ini menjadi bidang semiotonom, BSOB (Badan Semi Otonom Beasiswa). Artinya, sekalipun bidang beasiswa masih di bawah PPI Fukuoka, dalam hal pengelolaan administrasi dan keuangan menjadi mandiri. Lebih dari itu, periode kepengurusannya pun disesuaikan dengan kepentingan masa pengelolaan beasiswa. Ini berarti berakhirnya periode kepengurusan PPI Fukuoka 2003-2004, tidak otomatis berakhir pula kepengurusan BSOB. Hal ini memudahkan proses transfer pengelolaan beasiswa ke pengurus berikutnya. Dana yang dikeluarkan periode ini hingga saat terakhir sejumlah 1.085.087 yen. Jumlah penerima beasiswa pada periode pertama sebanyak 74 orang (61 SD dan 13 SMP) dengan total dana yang telah disalurkan sebanyak 369.000 yen, suatu prestasi yang cukup menggembirakan mengingat pada awal kepengurusan pengurus BSOB harus merumuskan kembali segala sesuatunya mengenai strategi dan kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan beasiswa. Saat ini BSOB tengah melaksanakan proses penyaluran beasiswa untuk Tahap kedua.”

Dari ulasan di atas, dapat dipahami bahwa PPIF bisa mencapai berbagai prestasi sampai sekarang berkat jasa-jasa pejuang PPIF di masa sebelumnya. Kita patut bangga dapat menjadi penerus cita-cita mulia tersebut.

Setelah ada BSOB, Lalu bagaimana alur penyaluran beasiswanya?

Berdasarkan data yang terdapat di milis PPI Fukuoka pada tahun 2006, telah jelas teradapat bagan alur penyaluran beasiswa yang sampai saat ini masih menjadi pedoman bagi para pejuang PPIF untuk menjalankan tugas dan fungsinya di BSOB ini.

Alur penyaluran beasiswa

Lalu, apa saja yang telah dilakukan para pejuang PPIF sehingga BSOB dapat bertahan lama?

Pada awal pembentukannya, dana BSOB berasal dari urunan sumbang dana dari pejuang PPIF sendiri. Selain itu, dengan bantuan masyarakat Fukuoka, khususnya Profesor Hideo Moriyama (penasihat mahasiswa asing Universitas Kyushu; kepala Kashiihama International Student House waktu itu; setelah pensiun, pengganti beliau adalah Profesor Sculli), pejuang PPIF juga pernah mengadakan penggalangan dana di daerah Koga. Tidak hanya itu, pada bulan Juni 2002, Indonesia Culture Day untuk pertama kalinya diadakan. Sejak ini pula, keuntungan penyelenggaraan acara Indonesia Culture Day diberikan sebagai beasiswa melalui BSOB.

Indonesia Culture Day (ICD), suatu kegiatan besar para pejuang PPIF, selalu mempunyai peran besar dalam penyediaan dana beasiswa. Tidak dapat dipungkiri, penyelenggaraan acara ini sangat berat. Para pejuang PPIF selalu dibantu oleh keluarga dan masyarakat Indonesia di Fukuoka dalam berbagai persiapan acaranya. Tidak jarang terbersit perasaan pejuang PPIF, apakah kapasitas pelaksanaan acara ini mampu dilakukan dan dilanjutkan oleh para pejuang. Namun, pejuang PPIF sampai dengan lebih dari 10 tahun ini telah melewati suka duka, tangis dan tawa dalam penyelenggaraannya. Acara ini melahirkan konflik, namun juga melahirkan kekompakan dan saling mengenal antar pejuang PPIF yang jumlahnya semakin banyak. ICD telah membekas di hati banyak pejuang.

Selain menggoreskan berbagai perasaan, kegiatan penyaluran beasiswa sebagai perwujudan cita-cita bersama juga tampak perkembangannya pada gambar berikut.

graph 1

graph 2

Hasil menggembirakan di atas, pada Februari 2012, mendapatkan apresiasi dari Festival Make a Change Day yang diselenggarakan di Nagoya. Penghargaan yang diterima adalah “ボランティア国際年 +10 賞(Volunteer International Year +10 award)” (sumber). Dua pejuang PPIF ditemani oleh perwakilan Teman Hati menghadiri acara penyerahan anugerah tersebut.

pic 1

Demikian sedikit cerita tentang BSOB. Semoga cerita ini dapat menginspirasi tidak hanya para pejuang PPIF, tetapi juga siapapun yang membaca. Urun andil kita semua kepada pendidikan Indonesia tidak terbukti dapat terhenti walaupun kita tidak berada di Indonesia, namun tergantung kemauan kita bersama. Kita patut berbangga bahwa PPI Fukuoka mempunyai badan seperti ini yang bisa menjadi contoh bagi pejuang-pejuang lain di luar sana untuk menghasilkan manfaat bagi kemajuan bangsa.

lupi1

Lutfiana Sari Ariestin (Bendahara Umum PPIF 2013-2014)

Editorial Board: PH, AN, FM

Credit Photo: Lutfiana Sari Ariestin

Credit Grafik : Kuwat Triyana, http://2011.makeachangeday.com/mcd_info/result_2011/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s