yasukuni_shrine_smal

[Mengenal Jepang – Bagian 3] Kuil Yasukuni, Sejarah dan Pengaruhnya di Masa Kini


Fukuoka. 27 Desember 2013. Seri mengenal Jepang kali ini akan membahas berita yang sering kali hangat di Jepang. Berita itu tidak lain adalah hal-hal yang menyangkut sejarah perang Jepang di masa lalu yang membuat beberapa negara tersinggung hatinya. Rekan-rekan pembaca pasti sudah sering membaca di buku sejarah kita juga bahwa setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang kalah perang dan banyak hal terjadi sehingga pendiri negara kita bisa memproklamasikan kemerdekaan. Nah, berita hangat apa yang khususnya berhubungan dengan sebuah kuil di Tokyo yang bernama Kuil Yasukuni (靖国神社)? Mari kita simak penjelasan berikut yang secara umum diambil dari penjelasan Pak Ikegami Akira dalam acara TV yang dibawakannya kali ini.

Pertama, mari mengetahui bagaimanakah suatu kuil yang bernama Yasukuni ini. Kuil yang dalam bahasa jepang disebut jinja secara umum merupakan tempat beribadah agama Shinto. Shinto sendiri adalah agama yang terbentuk dari kepercayaan terhadap fenomena alam. Misalnya, dalam kepercayaan Shinto ada dewa di gunung, di pohon, di batu dan lain sebagainya. Jumlah dewa dalam kepercayaan ini tidak terhitung karena sangat banyaknya. Selain itu, dari pengamatan penulis, kepercayaan Shinto juga merupakan kepercayaan animisme dimana arwah leluhur yang sudah meninggal akan diagungkan.

Yasukuni Shrine

Yasukuni Shrine

Kuil Yasukuni didirikan pada tahun 1868 oleh Oomura Masujirou dengan tujuan untuk melawatkan arwah orang-orang yang mati pada peperangan yang terjadi di Jepang. Peperangan ini secara khusus adalah peperangan yang terjadi setelah kapal Amerika Serikat yang dipimpin oleh Kapten Perry datang di Jepang. Perang-perang tersebut termasuk beberapa peperangan saudara yang terjadi di Jepang (peperangan antar kelompok yang berbeda pendapat) dan berakhir pada perang dunia ke-2. Mungkin rekan-rekan pembaca bisa menebak, awal kedatangan kapal besi hitam yang dipimpin oleh Kapten Perry bertepatan dengan kehidupan beberapa tokoh terkenal yang namanya sering kita dengar. Misalnya, Sakamoto Ryoma. Arwah Sakamoto Ryoma pun dilawatkan di kuil ini. Masyarakat yang ingin berdoa terhadap pahlawan-pahlawan perang tersebut dapat berdoa di kuil ini. Secara total, jumlah dewa yang dilawatkan di sini ada 2,466,000 pilar(*). Namun, umumnya tidak semua yang mati pada perang-perang tersebut dilawatkan arwahnya di sini. Orang-orang yang menentang kekuasaan kekaisaran Meiji tidak dilawatkan di sini.

Kuil Yasukuni sudah sangat mendarah daging pada kepercayaan masyarakat Jepang waktu itu. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ungkapan-ungkapan prajurit perang yang menyatakan misalnya, “tidak apa-apa kita nanti tewas, mari kita bertemu lagi di Yasukuni”, “jangan menangis, nanti kalau aku meninggal, kamu bisa menemuiku di Yasukuni” yang diungkapkan kepada keluarga atau kerabatnya.

Sebenarnya, sebelum perang dunia (perang dunia yang diikuti oleh Jepang adalah perang dunia ke-2), pemerintahan Jepang di kala itu mewajibkan semua rakyatnya untuk mempercayai sebuah agama negara yang pada dasarnya adalah mengagungkan jiwa leluhur yang sudah mati. Dengan kata lain, agama Shinto waktu itu dijadikan sebagai sebuah agama negara. Bagaimana dengan pemeluk agama Buddha dan Kristen yang sudah ada waktu itu? Mereka juga harus mempercayai kepercayaan ini disamping agama yang mereka anut. Untuk menguatkan negara sebagai sesuatu dengan kepercayaan Shinto, dibangunlah banyak kuil di penjuru negeri dengan nama Gokoku Shrine atau berarti kuil pelindung negara. Di Fukuoka pun kuil dengan nama ini bisa kita temui di dekat Taman Maizuru yang ada di salah satu sudut jalur 202. Sistem agama negara ini dihapuskan oleh Supreme Commander for the Allied Powers setelah perang dunia ke-2 berakhir.

Yang menjadikan berita panas bahkan panasnya terjadi di beberapa negara adalah melawatnya perdana menteri Jepang ke Kuil Yasukuni. Apa salahnya perdana menteri melawat ke sini? Jawaban singkatnya adalah karena dilawatkan-juga-nya orang-orang yang dianggap sebagai penjahat perang level A(**) di kuil ini. Orang-orang yang dianggap penjahat perang ini adalah yang berperang pada perang dunia ke-2 dan telah banyak melukai negara-negara seperti China dan Korea Selatan. Kuil Yasukuni di dunia internasional sering juga disebut sebagai “war shrine“, yang pastinya membuat orang Jepang yang mendengar menjadi terkejut.

Pada tahun 1953, Jepang menandatangai perjanjian San Fransisco yang menyatakan bahwa Jepang tidak boleh memiliki angkatan perang. Tapi, perjanjian ini juga berarti bahwa Jepang telah merdeka sejak adanya perang dunia ke-2. Dengan ini, hampir setengah dari rakyat Jepang melakukan aksi penandatangan suatu pernyataan bahwa orang-orang yang dipenjara di penjara Sugamo harus dibebaskan semua. Penjara Sugamo merupakan penjara yang diperuntukkan bagi para tahanan politik. Dengan adanya aksi besar ini, pemerintah mengabulkan permintaan aksi tersebut untuk membebaskan semua tahanan. Secara spesifik, tahanan yang masih hidup dibebaskan, sedangkan tahanan yang telah menerima hukuman mati arwahnya dilawatkan di Kuil Yasukuni. Penggabungan lawatan arwah baru ini dilakukan pada tahun 1978.

Baiklah, sampai saat itu dunia internasional tidak memprotes tindakan tersebut. Namun, pada tahun 1985, perdana menteri Nakasone yang menjabat saat itu melawat ke Kuil Yasukuni dengan memaparkan kepada dunia bahwa lawatan ini dia lakukan atas nama seorang perdana menteri, pemimpin semua masyarakat Jepang. Akan tetapi, reaksi yang tidak terduga diawali muncul dari negara China. Pelawatan yang dilakukan oleh Bapak Nakasone dilakukan pada tanggal 15 Agustus. Kita semua tahu, tanggal ini adalah tanggal berakhirnya perang dunia ke-2. Hal ini kemudian disusul dengan ungkapan sakit hati dari Korea Selatan dan beberapa negara lainnya. Sepertinya reaksi mengejutkan ini benar-benar tidak diduga oleh Pak Nakasone. Sejak itu, apabila perdana menteri Jepang ingin melawat ke Kuil Yasukuni, lawatan tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Kehati-hatian itu tampak seperti ungkapan bahwa lawatan dilakukan atas nama pribadi, tidak dilakukan pada tanggal 15 Agustus, dan sebagainya.

Baiklah rekan pembaca yang budiman, panjang sudah cerita kita kali ini. Mumpung beritanya menghangat lagi belakangan ini, misalnya berita tadi pagi di televisi pun menyiarkan tentang hal ini, silakan rekan-rekan menyimak berita selengkapnya yang membahas kedatangan Pak Abe, perdana menteri Jepang saat ini, ke Kuil Yasukuni misalnya dari berita berikut: klik saya. Dengan ini, misalnya suatu hari rekan-rekan semua membaca berita tentang melawatnya perdana menteri Jepang ke Kuil Yasukuni, kita bisa memahami bahwa sebenarnya di balik itu ada sejarah seperti ini.

(*) pilar: terjemahan bebas oleh penulis terhadap 柱 (hashira), merupakan satuan untuk menghitung dewa
(**) level kejahatan perang:
level C: pembunuhan terhadap penduduk sipil dan penganiayaan terhadap mereka
level B: pelanggaran terhadap aturan perang internasional seperti penyerangan terhadap rumah sakit
level A: perencana dan pelaksana perang terhadap kedamaian yang berarti adalah para pemimpin perang

Referensi:
1. Video acara TV Ikegami Akira yang berhubungan: video 1 video 2 video 3
2. berbagai artikel wikipedia yang alamat url-nya tersedia di isi blog

Kontributor:

lupi1

 Lutfiana Sari Ariestin (Bendahara Umum PPIF 2013-2014)

Editorial Board: PH, AN, FM
Credit Foto: Lutfiana Sari Ariestin

One thought on “[Mengenal Jepang – Bagian 3] Kuil Yasukuni, Sejarah dan Pengaruhnya di Masa Kini

  1. Reblogged this on Lutphi's Weblog and commented:

    Beberapa waktu lalu sedang keranjingan nontonin video-videonya Ikegami Akira.. eh, nemu berita menarik, hehe. Jadinya nyoba nge-share ke blog PPIF dan berhubung pengen juga post di sini, saya re-blog, yaa😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s