Foto bersama

Reportase General Lecture: Inovasi ilmu dan teknologi untuk menghadapi tantangan masa depan


Fukuoka, 11 Januari 2014. Alhamdulillah, hari ini di Ito Campus diadakan sebuah lecture, atau mungkin kita lebih mengenalnya sebagai seminar. Pada kesempatan ini, kami diberikan amanah untuk menuliskan tentang laporan acara ini.

Pertama-tama, acara dibuka oleh MC, setelah itu acara ini dilanjutkan dengan pembukaan oleh ketua PPIF, Bp. Hendra Pachri. Berikutnya yaitu pemberian kuliah oleh Narasumber pertama, yakni pak Khoirul Anwar. Beliau adalah pemilik hak paten atas 4G LTE yang kita gunakan pada smartphone sekarang ini. Berikutnya acara disela dengan istirahat yang dirangkaikan dengan shalat dan makan siang yang telah disiapkan oleh panitia. Setelah itu acara ini pun dilanjutkan dengan pemberian kuliah oleh narasumber kedua, yakni Bapak Iqbal Djawad, Atdikbud KBRI Jepang untuk periode ini.

Acara pembukaan oleh ketua PPI Fukuoka, Bp. Hendra Pachri

Acara pembukaan oleh ketua PPI Fukuoka, Bp. Hendra Pachri

Alhamdulillah, kami mendapatkan begitu banyak pelajaran dari pertemuan ini. Begitu banyak motivasi yang kami dapatkan dari kuliah yang dilanjutkan diskusi dari para narasumber. Salah satu kata kunci yang kami dapatkan adalah kata ‘berpikir besar’. Apa sih arti dari ‘berpikir besar’ ini? Pada awalnya kami tidak mampu memberikan pengertian dari berpikir besar, namun berbagai contoh yang diberikan oleh narasumber memberikan sedikit gambaran tentang pengertian dari kata tersebut.

Penyerahan kenang-kenangan kepada Dr. Khairul Anwar oleh ketua PPI Fukuoka

Penyerahan kenang-kenangan kepada Dr. Khoirul Anwar oleh ketua PPI Fukuoka

Salah satu contoh yang diberikan oleh pak Khoirul Anwar adalah pengalaman beliau yang menggambarkan bahwa kegagalan akan terasa kecil jika kita menargetkan yang besar. Kesimpulan ini kami ambil berdasarkan pengalaman beliau yang tidak mampu untuk lulus di Universitas terbaik di Jepang, tetapi mendapatkan prestasi pada tulisan beliau sebagai yang terbaik di Asia pada tahun 2006. Bahkan hal tersebut mendapatkan hak paten dan sekarang teknologi tersebut digunakan oleh kita secara umum. Dari sini kami bisa belajar bahwa bisa jadi dibalik kegagalan itu ada hikmah kesuksesan yang lebih besar dibalik hal tersebut. Karena itu kita juga perlu memahami bahwa gelar, institusi, dll bukanlah tujuan utama kita, tetapi cita-cita kitalah yang perlu dibesarkan, dengan begitu kegagalan-kegagalan kecil (misalnya kegagalan masuk institusi, atau kegagalan meraih suatu gelar), akan menjadi pelajaran berharga untuk kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar karena kegagalan itu akan membuat kita jauh lebih berusaha lagi.

Narasumber kedua

Narasumber kedua, Bp. Iqbal Djawad, Atdikbud KBRI

Disamping itu, beliau juga menjelaskan bahwa ‘ketidak pastian itu mengandung informasi’. Salah satu penyebab kita tidak bisa sukses karena kita selalu mengharapkan kepastian dan jaminan. Padahal salah satu ciri dari orang yang berfikir besar adalah mereka akan terus bekerja dan aktif. Menyibukkan diri dengan aktifitas akan menambah ilmu kita, walaupun tidak bermanfaat untuk saat ini tapi hal tersebut akan bermanfaat di masa depan. Karena itu perlu bagi kita untuk terus mengoptimalkan diri.

Mengoptimalkan diri itu sendiri bermakna tentang bagaimana kita membuat waktu kita lebih efektif dalam waktu yang kita miliki. Kita semuanya memiliki waktu 24 jam dalam sehari, tapi tentu efektivitas dari penggunaan waktu itu sendiri berbeda-beda bukan? Nah optimalisasi inilah salah satu kunci kesuksesan seseorang.

Pesan lain yang kami dapatkan adalah “1 jam membaca buku di perpustakaan = 1 bulan melakukan riset”, mengapa? Karena mungkin saja eksperimen yang kita lakukan bisa jadi sudah pernah dilakukan oleh orang lain dan telah dibukukan. Coba kita bayangkan, berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk membaca jika dibandingkan dengan waktu melakukan eksperimen ? Tentu adalah hal yang sia-sa jika kita ternyata menemukan fakta melalui eksperimen berbulan-bulan, tapi ternyata sebenarnya fakta tersebut sudah ada di dalam buku di perpustaan kampus tapi kita tidak sempat baca.

Hal yang juga menjadi sorotan kami adalah kanji ini(忍), kanji yang dibaca shinobu, yang katanya berarti endurance, atau daya tahan. Kami pertama kali melihat kanji ini dalam anime ‘Naruto’, dimana Aliansi shinobi menggunakan pelindung kepala yang bertuliskan lambang tersebut. Ditambahkan dengan sebuah quotes, “Pain is temporary. It may last a minute, or an hour, or a day, or a year, but … something else will take its place. If I quit, however, it last forever. “ – Lance Armstrong (1971). Beliau juga sempat bercerita tentang pembelajaran dari kehidupan ninja yang begitu menderita, dimana mereka hidup di atas atap, atau dibawah tanah, dari sini kita belajar bagaimana mereka menyesuaikan dengan hidup yang begitu sulit. Terkadang begitu banyak masalah yang kita hadapi selama sekolah, dan setiap orang punya masalahnya masing-masing, ada yang menghadapi masalah dosen, masalah pergaulan, masalah bahasa, dll. Karenanya, jangan pernah lari dari masalah karena itu hanya akan memberikan masalah yang lebih berat kedepannya.

Terakhir adalah sebuah pertanyaan simple yang beliau kutip, Manakah yang membuat seseorang berhasil 5x lebih besar dibanding rekan-rekannya?

  • Bekerja lebih keras
  • Punya waktu lebih banyak
  • Punya uang lebih banyak
  • Punya kesempatan lebih banyak
  • Punya tenaga lebih banyak
  • Cara Berpikir Lebih Besar

Pada kenyataannya, faktor terpenting yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang optimal bukanlah 5 faktor teratas, tetapi faktor terakhir yakni “Cara Berpikir lebih besar”. Bukankah ini menjadi pelajaran bagi kita untuk mulai mengubah cara berpikir kita?

Untuk pembicaraan sesi kedua, juga tidak kalah luar biasanya, kami disuguhkan dengan pembicaraan tentang how to be an adaptable person. Dimulai dengan kalimat, It is not the strongest of the species that survice, nor the most intelligent, but the one most adaptable to change. “ -Charles Darwin, Origin of the Species, 1859. So, Sahabat-Sahabat kami yang super (maaf nih, niru-niru om Mario Teguh dikit), yang paling mampu bertahan hidup itu bukanlah yang paling kuat ataupun yang paling pintar, tetapi yang paling mampu beradaptasi untuk berubah.

Beliau pun sempat sharing dengan pengalaman beliau yang kerjanya adalah meneliti saraf ikan, yang akhirnya beralih ke bidang diplomasi. Sungguh hal tersebut cukup sulit bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi. Karena itu, hal ini sangat memotivasi kami, karena sejujurnya penulis juga adalah manusia yang sedang mencoba untuk berpindah, berpindah dari SMA ke Undergraduate, berpindah dari Indonesia ke Jepang, dan berpindah dari IPS ke bidang Teknik Sipil. Itu semua adalah proses perpindahan yang tidak mudah, tapi kami sadar, itu semua diperlukan untuk menjadi lebih baik.

Setelah dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, maka berakhir sudah acara ini yang seperti biasa diakhiri dengan adanya foto bersama pada akhir acara.

Foto bersama

Foto bersama

Pada akhrnya, menurut kesimpulan kami, “Ilmu, adaptivitas, kemampuan mengefektivitaskan waktu, dan pemikiran yang besar adalah kunci dari kesuksesan di dalam hidup di dunia”.

Semoga apa yang kami tulis ini bisa bermanfaat bagi para pembaca semuanya.

Kontributor:

5.faridMuhammad Farid Maricar (Divisi IT PPIF)
Department of Civil Engineering, Watershed Laboratory

Editor: PH, AN, FM
Credit foto: Putu Hangga, Infal Syafalni, dari group Facebook PPI Fukuoka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s