Indonesia Negara Miskin

Indonesia, Negara Kaya Serasa Miskin


Data kemiskinan Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik pada bulanJanuari 2013 menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,54 juta jiwa dari yang semula sebesar 29.13 juta jiwa di bulan Maret 2012 menjadi 28.59 Juta jiwa di bulan September 2012. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi Negara kita. Tetapi ketika membaca lebih lanjut lagi ternyata indeks keparahan kemiskinan cenderung tetap untuk kawasan perkotaan (sebesar 0.36 dari maret s/d September 2012) dan mengalami kenaikan 0.02 di wilayah pedesaan dari yang semula 0.59 di bulan Maret 2012 menjadi 0.61 di bulan September 2012.

Tingginya atau rendahnya indeks keparahan kemiskinan menunjukkan tinggi atau rendahnya intensitas kemiskinan. Masih bersumber dari data yang sama, ternyata komoditas yang memberi pengaruh besar pada kenaikan garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan adalah komoditas makanan terutama beras. Wajar bila orang perkotaan meributkan beras untuk makan, karena mereka tidak memiliki sawah atau tanah untuk ditanami padi, tetapi sungguh lucu ketika orang-orang di kawasan pedesaan masih harus kebingungan membeli beras, kedelai, daging ayam, telur, dll.

Pertanyaannya adalah dimana swasembada pangan yang dulu digembor-gemborkan, sejauh mana imbasnya Negara kita dikenal sebagai Negara agraris. Wajar saja ketika harga kedelai dunia naik, kita teriak-teriak. Karena bangsa kita boleh punya tanah, tetapi isi yang ada di dalam tanah dan tumbuhan yang hidup diatasnya ternyata bukan milik anak bangsa.

Terlepas dari penurunan jumlah penduduk miskin di Indonesia, sebenarnya bukan angka-angka itu yang menjadi akar kekhawatiran.karena ibarat gunung es data tersebut hanya memotret bagian kecilnya saja yang menjulang di permukaan. Ketika mau lebih dalam melihat sebenarnya badan gunung es itulah yang lebih besar, yang lebih tebal dan lebih berbahaya. Diibaratkan gunung es tadi, kemiskinan yang tampak secara dzohir (nyata) itu bukanlah masalah yang sebenarnya dari bangsa ini. Yang menjadi masalah mendasar adalah mental miskin yang dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, mulai dari yang betul-betul miskin sampai yang senang dianggap miskin.

Mental miskin yang mengakar itulah yang menjadikan kita tidak pernah merasa kaya, tidak pernah merasa puas, dan tidak pernah mau untuk berbagi. Jangankan berbagi, peduli terhadap sesamapun tidak. Karena mental miskin yang menjadikan kita haus akan harta, dan kedudukan. Masalahnya penyakit akut itu tidak pandang bulu menyerang siapapun. Kalau menyerang pejabat ya sifatnya Ibarat petruk dadi ratu, ketika menjabat ajian yang dipakai ya aji mumpung. Mumpung punya kekuasaan, mumpung punya wewenang, mumpung punya jaringan segera mengeruk kekayaan yang banyak untuk pribadi. Masih relatif lumayan ketika penyakit itu menyerang orang yang betul-betul miskin. Paling-paling mentok-mentoknya dapat uang BLT/BLSM yang itupun habis bukan untuk keperluan mendasar tetapi habisnya untuk beli rokok, pulsa atau kebutuhan tidak mendesak lainnya.

Lucu memang negeri ini, walaupun data statistik menyatakan terjadi penurunan jumlah penduduk miskin, tetapi pada kenyataannya semua orang berlomba-lomba untuk disebut miskin. Terus kenapa harus repot-repot melakukan pendataan? Kenapa tidak dibuat saja data itu naik setiap tahun. Tidak usah perlu malu dengan Negara lain. Toh pada akhirnya kalau Negara kita miskin pasti kita dapat BLSM/BLT dari Negara lain yang lebih “kaya”.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kontributor:

sektiRezky Lasekti Wicaksono
Laboratory of Forest Policy, Kyushu University

Tim Editor: AN, PH, FM
Photo Copyright: https://www.facebook.com/travel.to.indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s